HUKUM SUNTIK DAN INFUS PADA SAAT PUASA

21 Juni 2016

HUKUM SUNTIK DAN INFUS PADA SAAT PUASA

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum suntik dan infus pada saat puasa.

Pendapat pertama menyatakan tidak membatalkan puasa secara mutlak, karena yang dapat membatalkan puasa adalah masuknya benda melalui lubang mulut, hidung, kuping, dubur dan kemaluan. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa ulama, di antaranya Syekh Muhammad Bukhit Al-Muthi’i, Syekh Abdullah ‘Awadl Bukayyir dan Syekh DR. Muhammad Haytu.

Kedua, membatalkan puasa secara mutlak. Pendapat ini di antaranya dinyatakan oleh Syekh Salim bin Sa’id Bukayyir Baghitsan. Bahkan pada tahun 1380H beliau menulis sebuah risalah berjudul “wudluhul buthlan fil hukmi bi’adamil fithri bilhaqni bil ibroh fi nahari romdlon” (Terangnya Kesalahan Dalam Hukum Tidak Batalnya Puasa Sebab Suntik di Siang Bulan Romadlon) dan Syekh Muhammad Najib Al-Muthi’i.

Ketiga, diperinci sebagai berikut: 
a). Apabila dapat menjadi pengganti makanan (menjadikan kondisi tubuh kuat meski tidak makan), maka membatalkan puasa. 
b). Apabila tidak menjadi pengganti makanan maka tidak membatalkan. Jika dimasukkan lewat otot besar maka membatalkan puasa, jika dimasukkan tidak melalui otot besar maka tidak membatalkan. Pendapat ini dinayatakan oleh Al-Habib Abdullah bin Mahfudh Al-Haddad, Al-Habib Zein bin Ibrohim bin Smith.
Oleh karenanya, sebaiknya dihindari suntik atau infus pada siang Ramadhan kecuali jika darurat, maka sebaiknya diganti dengan qodlo’ pada hari yang lain.

Ref: Fathul Ilahi al-Mannan 9fatawa syekh salim bin Sa’id bukayyir Baghitsan. Hal. 80. At-taqritatus Sadidah. Hal. 452. 
(MAJALAH CAHAYA NABAWIY EDISI 108)



Baca juga
  »
21 Juni 2016
PENTINGNYA MAJELIS KHUSUS WANITA
Di dalam mencari dan memahami ilmu agama, perempuan dan laki-laki sama sekali tidak dibedakan. Sebagaimana laki-laki dituntut mengerti ilmu agama, perempuan juga diwajibkan memahami ilmu agama. Nah, untuk itu para perempuan harus menyediakan waktu khusus untuk mempelajari agama dengan cara membuat majelis khusus perempuan (Jalsatun-Nisa). Hal ini sebagaimana yang telah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW kepada para perempuan di masa itu.